Kereta Terakhir

Kereta terakhir - Jumat malam, pertama kalinya aku bertemu dengannya, di commuter line rute Jakarta-Bogor. Saat itu baru pertama kalinya aku mencoba naik kereta dari Jakarta menuju Bogor. Kereta lengang, di deretan tempat dudukku hanya ada aku saja dan seorang ibu tua di depan deretan tempat dudukku. Aku duduk di dekat pintu, dan di stasiun pasar minggu dia masuk lalu bertanya ramah padaku,”Tempat duduk sebelah kosong?”. Sekilas kulihat ke arahnya, dan hanya kubalas dengan anggukan kepala.
Jepang. Ya dia orang jepang. Mungkin agak susah membedakan orang china, korea, atau jepang. Tapi aku yakin betul, dia orang jepang. Walaupun lafal bahasa indonesianya sangatlah fasih terdengar. Dan mataku tidak bisa berbohong, dia rupawan. Dengan alis tebal, bibir merah, hidung mancung, dan tubuh ramping modalnya untuk memikat para wanita bahkan pria-pria penyuka pria sudah sangat mencukupi. Tapi aku tidak mau ambil pusing waktu itu. Tujuan utamaku sekarang adalah Bogor.
Selama beberapa menit kita terdiam. Dia hanya duduk di sebelahku dengan sesekali bermain-main dengan telepon genggamnya. Sedangkan aku, aku sibuk membaca arahan dari temanku tentang stasiun-stasiun yang akan dilalui dalam perjalanan menuju bogor, yang dituliskannya di secarik kertas.
“Pertama kali naik kereta?”, tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Ngga..”, jawabku singkat. Ini memang bukan pertama kalinya aku naik kereta. Aku pernah naik kereta kelinci di pasar malam setiap rabu malam sewaktu aku kecil. Jadi ini merupakan suatu pembenaran bahwa ini bukan pertama kalinya aku naik kereta.
“That..?”, tanyanya sembari menunjuk ke arah secarik kertas yang aku pegang sedari tadi.
“Oh… it’s nothing. Just some guidline”, jawabku.
“Aahh, I see… Are you working?”, lanjutnya bertanya.
“Me? Ehmm.. yeah.”, jawabku malas. It’s awkward. I mean it feels awkward. This is the moment that I actually really dislikes when meeting with new person. Conversation. I hate doin it with stranger. Just feel uncomfy about it.
“Well I’m on JB**. And you?”, lanjutnya.
“Bank of In*******…”, jawabku seketika. Aku orang yang tidak bisa berbohong atau menutupi kepura-puraan dengan baik. Sehingga saat ditanya, aku lebih memilih untuk menjawab jujur dari pada harus capek-capek mencari muka.
“Ooh, B*. Kita punya counterpart di sana”, balasnya.
“Aaa..”, jawabku mengiyakan. Aku memang pernah melihat pintu suatu ruangan berlogo JB** saat rapat di gedung sebelah tempatku bekerja. Mungkin yang dia maksudkan itu.
“Pulang ke rumah?”, lanjutnya bertanya.
What’s this. Kenapa dia tidak capek bertanya. Lagipula jawaban yang aku berikan sangat singkat yang menandakan aku sedang malas untuk sekadar mengobrol atau mengobrol dengannya.
“I live in Jakarta”, jawabku ketus tanpa menoleh ke arahnya.
“Aku di Bogor...”, jawabnya singkat dengan nada mengambang yang menandakan bahwa dia paham lawan bicaranya sedang tidak dalam kondisi baik untuk diajak bicara.

**************************************************************************

Stasiun Citayam. Kita masih sama-sama hening dalam diam.
Aku gelisah, kenapa waktu terasa berjalan begitu lama. Sekilas kulihat kertas yang kupegang, tinggal beberapa stasiun lagi menuju bogor. Kuperhatikan dia merogoh-rogoh tas nya dan mengeluarkan sebatang coklat yang aku tau betul coklat itu tidak dijual di Indonesia. Perlahan dia buka bungkusnya, dan dia sodorkan kepadaku. Aku sempat heran dengan apa yang dia lakukan. Dengan perlakuan yang baru saja aku berikan, seharusnya dia sudah tidak berkewajiban untuk bersikap manis lagi di depanku.
“Katanya coklat bisa menenangkan hati dan pikiran kalut”, ujarnya sambil tersenyum.
Aku bingung. Di satu sisi aku belum sempat makan malam sedari tadi. Di sisi lain, pikiran kalut? Apa yang dimaksudkannya? Kenapa dia repot-repot menerka-nerka.
“Just keep it”, balasku padanya.
“But you seem like you need it”, lanjutnya memaksa.
“Sir, I don’t know you. So just don’t try to be nice to me”, jawabku. OK, aku tau sekarang aku sudah mulai keterlaluan dengan melarang seseorang memberikan perlakuan yang menyenangkan kepadaku. Seharusnya aku senang. But meeen, you know lah, di jaman kayak gini gitu… orang yang baik pasti ada maunya.
Dia masukkan kembali coklat itu ke dalam tas nya. Dan lagi-lagi dia hanya tersenyum. Kali ini senyumnya sedikit pahit. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik senyum itu.
Dan kami pun kembali dalam diam. Aku sedikit merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan tadi. Tidak seharusnya aku bersikap tidak menyenangkan kepada orang yang berusaha untuk ramah kepada orang yang baru dikenalnya. Guilty! I am selfish.
“Well, I’m … sorry”, ujarku singkat. Akhirnya kata itu keluar juga dari mulutku. Kata yang sangat jarang aku ucapkan bahkan untuk mengatakan ‘terima kasih’.
“I am gay. And I just broke up with my boyfriend”, balasnya cepat.
Aku tersontak. Apa yang baru saja dia katakan sungguh tidak bisa masuk akal. How can he say that? I’m not even his friend and why he tell me such a confidential matter. Oh God, now I feel like a shit.
Diam. Sejenak di antara kami hanya ada diam. Aku mencoba beripikir kata apa yang seharusnya aku ucapkan. Tapi di saat-saat seperti ini kadang pikiran tidak seharusnya dijalankan. Akhirnya aku memilih untuk sedikit bijak…
“Hati itu kayak batang singkong. Kadang perlu dipatahkan, biar bisa hidup dan tumbuh lagi kemudian hari”, jawabku.
Dia terperangah seketika. Mungkin terkesima dengan apa yang baru saja aku katakan. Matanya sedikit berkaca-kaca melihatku. Tapi kemudian dia menoleh ke arah lain. Aku tidak bisa untuk tidak menatapnya. Paras rupawan dihiasi kesedihan. Di sudut matanya kulihat sedikit linangan air mata. Disekanya dengan ujung jari sambil menghela nafas panjang. Terlihat jelas beban yang dia tanggung.
“Di stasiun tadi, terakhir kali dia mengantarku...”, balasnya kemudian, masih menatap jauh ke luar.
“Dan di stasiun tadi kamu putuskan untuk masuk, dan melangkah meninggalkannya”, jawabku. Mencoba menenangkannya.
Senyum pahit kembali terlihat di wajahnya. Senyum yang penuh dengan kepedihan.

**************************************************************************

Stasiun Bojonggede. Beberapa orang mulai keluar dari gerbong yang kami tumpangi. Dia terdiam. Namun raut mukanya mulai lebih tenang. Tapi dia tetap saja menghela napas panjang.
“Coklat.. Kita bagi dua dan kita makan sama-sama. Well, if you still wanna share it”, seruku tiba-tiba memecah lamunannya.
Lagi-lagi dia tersenyum. Dia keluarkan lagi coklat tadi dari tasnya. Dan kami memakannya sama-sama.
“Does it work?”, tanyanya tiba-tiba.
“What?”, balasku bertanya.
“The chocolate, does it calm you after you eat it. Could it calm you after you lose the game?”, lanjutnya dengan melihat coklat yang dipegangnya.
Semua orang pernah jatuh cinta dan pernah patah hati. Aku pribadi memang termasuk jarang jatuh cinta dan jarang juga patah hati. Namun cinta bukan sesuatu yang layak untuk dimainkan. Atau lebih tepatnya terlalu kejam jika kita hanya berniat bermain-main dengan hati seseorang. It’s too harsh, meen.
“You never lose the game, coz it’s not a game for you”, ujarku yang sontak membuat dia melihat ke arahku lagi.
He’s handsome. Too handsome I think to being hurt like that.
“So what’s this?”, lanjutnya bertanya. Raut mukanya masih menunjukkan kekecewaan mendalam.
“Ini suatu perjuangan. Kamu pernah memperjuangkannya. Setidaknya, sebuah perjuangan layak untuk dikenang”, jawabku tanpa pikir panjang.
Senyum lebar seketika menghiasi parasnya, ada tawa renyah terdengar di balik senyum itu. Matanya terlihat semakin sipit saat dia tertawa.
“You’re right… Are you gay?”, tanyanya.
“You better ask me first about that before you blurt it out the case. No, I’m not. And I’m sorry.”, jawabku.
“It’s ok. It would be nice if I have you as my boyfriend”, ujarnya dengan tatapan menggoda. Ya, dia tampan.
“For now? No. Your heart is still there, although the love was hurt”, jawabku seketika.
“Hahaha.. Iya, hatiku masih tertinggal di sana”, balasnya mengambang.
“Cintaku masih untuknya, meski dia akan mendapat penggantiku segera. Yang mungkin akan menjadi pendamping hidupnya selamanya. Salahku dari awal, membiarkannya menjalani dua hubungan. Salahku dari awal terlalu mencintainya. Salahku dari awal kenapa harus dia yang aku cinta.”, lanjutnya menerawang jauh ke belakang.
Aku menatapnya, dan tanpa tersadar aku pun turut larut dalam perasaanya saat ini.
“Cinta tidak salah. Mungkin dia datang kepada orang yang salah, atau mungkin di waktu yang salah. Tapi, cinta tidak salah.”, jawabku. Aku berusaha sesantai mungkin mengahadapi perasaannya saat ini. Masih kumakan sedikit demi sedikit coklat yang tadi diberikannya. Tapi ini salah, coklat tidak juga membuatku menjadi tenang.
Pikiranku … masih tertuju pada wanita yang aku pacari sejak 2 tahun lalu. Masih kuingat senyumnya beberapa bulan lalu ketika kami menghabiskan waktu bersama di Jakarta. Merdu suaranya saat dia bisikkan lelucon konyolnya di telingaku. Manis kecup bibirnya di kala pertama aku rasakan ketika diriku tebaring lemah karena demam berdarah. Dan beberapa jam lalu, melalui pesan singkat dia ucapkan kata pisah. Dia memintaku untuk pasrah karena hatinya telah berpindah.

**************************************************************************

Keheningan malam - Stasiun Cilebut. Dua lelaki yang patah hati duduk berdua, menerawang jauh ke belakang saat-saat kebersamaan yang dulu menyambut. Di luar malam semakin malam. Tinggal menunggu menit, aku akan sampai di sana.
“Cinta itu memang suatu perjuangan. Sekarang bukannya aku tidak mau berjuang. Karena cinta itu tidak butuh paksaan bukan?”, ujarnya tiba-tiba memecah keheningan.
Aku tersontak. Seolah aku tersadar karena ucapannya. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dipaksakan, termasuk perasaan. Kenapa aku harus memaksakan kalau aku tau pasti bahwa hasilnya akan tetap bertepuk sebelah tangan.
“Ya, itu benar dan sekaligus menyakitkan. Dan rasa sakit itu juga bagian dari perasaan kan. Paling tidak kita masih punya yang namanya perasaan. Hahaha…”, jawabku dengan tawa.
Kami pun tertawa bersama-sama. Menertawakan perasaan. Menertawakan nasib. Pantaskah takdir ditertawakan jika untuk memilihnya saja kita tidak diberi kesempatan?

**************************************************************************

Stasiun Bogor. Pemberhentian kereta terakhir. Haruskah di sini juga aku labuhkan perahu yang selama ini berlayar. Haruskah aku berlari menembus hujan gerimis di jalanan kota. Datang ke rumahnya dan memohon kembali cintanya …
Dia berdiri dan melihatku yang masih saja duduk.
“Kamu ngga turun?”, tanyanya.
“Haruskah?”. Aku malah balik bertanya padanya. Pertanyaan yang semestinya aku tau jawabannya.
“Kalau ini bukan tujuan akhirmu, kembalilah. Dan putuskan dimana kamu akan berhenti nanti.”, balasnya tersenyum. Kali ini kulihat senyumnya yang tanpa beban di balik wajahnya yang jelas terlihat lelah dan matanya yang sembab.
“Thanks”, balasku.
Dia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Kartu namanya. Dan memberikannya padaku.
“Just do things that make you happy. I’ll do that too, even indeed it’s bittersweet.”, ujarnya.
Dia melambaikan tangannya, tersenyum dan menatapku untuk yang terakhir kalinya, lalu turun dari pintu kereta. Meninggalkanku sendiri, di kereta terakhir menuju Jakarta.
Karena cinta aku mengejarnya. Karena aku mengejarnya, aku lelah. Dan karena aku lelah, mungkin ini saat yang tepat untuk aku kembali, ke Jakarta.



Tinggal kau, lalu aku. Dan hati kita segera kosong seperti
stasiun ini. Rel beku, gerbong sunyi. Bahkan menyentuh
lenganmu saja aku tak berani. Adakah wajah selain wajah
kita di sini? Bulan pucat, wajah kita terpantul asing di
ujung peron. Pepohon berjajar dalam bayang remang.
Dingin, bisikmu. Aku mendengarnya seperti lagu lirih
menembus lembut gendangku. Merayap seperti kabut di
kepalaku, kabut yang dingin. Musim tak selalu ramah.
Entah mana yang lebih menakutkan. Ketakmampuanku
melukis garis malam atau aku yang meradang membaca
matamu?
Betapa nyanyi serangga, bulan pucat, dan perempuan,
bersekutu mereka memasung malam. Tawang yang sepi,
Tawang yang nglangut. Meski padanya telah terekam
beribu cerita. Duka bahagia, jangan tanyakan lagi. Tak
usah bersenandung cinta di sini, katamu. Sebab terlalu
banyak onggokan luka dan ceceran derita. Ah, padahal
aku berharap, cinta dapatlah menghapus nestapa.
Setiap persinggahan mencatat sisa tanya. Pun di sini.
Kereta datang dan pergi. Kisahpun bertumpuk. Telah
penuh lantai dinding atap stasiun dengan roman segala
abad. Kau temukan dirimu di sini? Seekor serangga
menabrak tiang lampu jalan. Kita terhenyak. Sungguh
waktu dan kita telah saling memburu.
Deru kereta seperti masih ada. Kereta yang melintas
di selasar hati. Tetap saja sunyi. Berpuluh pena telah
patah di tengah, teriris senyum di sudut bibir. Sungguh,
memuisikanmu sama sulitnya dengan menerka adakah
seseorang di stasiun berikut yang menunggu sepi seperti
kita? Tetap saja sunyi. Bangku-bangku, tiang, dan loket
telah tertidur.
Ingin kutembangkan Asmaradana, tapi nanti kau terpejam.
Barangkali jaman telah memutus, biarlah, di setiap
persinggahan selalu ada yang bermekaran. Tak ada yang
kekal. Seperti lamunan kita yang terbuyar ketika suara
itu mengirim pesan, dan sorot lampu yang membelah
kabut di kejauhan. Kereta terakhir. Seperti pertanda,
akankah kisah berakhir? Tak perlu dipercakapkan. Berikan
dekapan terhangat. Juga butir airmata penghabisan, yang
masih bisa kuusap.
(Kereta Terakhir - Y. Wibisono)

**************************************************************************

Stasiun Gambir. Satu tahun kemudian.

Aku duduk di salah satu kedai kopi di dalam stasiun. Terlalu sederhana sebenarnya kalau aku sebut kedai, tapi memang kenyataanya ini tetap saja kedai. Aku baca lagi pesan singkatnya yang dikirimkannya pagi tadi, dia akan kembali bertugas di Indonesia setelah beberapa bulan menetap di India. Sedang aku beberapa minggu lagi akan ke Swiss untuk short course beberapa bulan. Namun sebulan yang lalu - dimana berawal dari dua orang di kereta yang sama-sama patah hati, berlanjut dengan saling berkirim pesan di online media - akhirnya kita putuskan untuk menjalin hubungan bersama.
Ketika aku bertanya, masihkah dia mengingat kekasihnya dulu. Dia memberikan jawaban yang membuatku membuka hatiku lagi untuk mencintai seseorang.
‘Sudahlah ... mungkin dia hanya sebagian dari masa laluku, penghias sebagian kecil dari hidupku, sebagai pelajaran tetang “cinta” yang masih dini aku rasakan, sebagai bagian dari sesuatu yang disebut perasaan. Biarlah, dan tetaplah seperti itu adanya...’
Bus DAMRI yang dia tumpangi dari bandara belum juga tiba. Kuhirup lagi aroma kopi panasku. Bagiku kopi lebih menenangkan dari pada coklat. Walaupun sebagian besar orang mengatakan kopi malah membuat berdebar, syaraf tegang, adrenalin meningkat. Tapi bagiku, kopi punya cita rasa sendiri. Simpelnya, pahit manis. Bisa kita rasakan manisnya, namun tetap masih tersisa rasa pahitnya. Begitu juga perasaan, kita tidak akan bisa bersyukur merasakan manisnya bahagia kalau kita belum merasakan seperti apa pahitnya nestapa. Dan biarlah pahit itu tetap ada.
Aku memesan satu cangkir kopi lagi. Aku ingin tanya pendapatnya nanti tentang kopi, setibanya dia di sini. Which is better, coklat atau kopi.

*************************************************************************

*Penulis adalah seorang yang cakep, baik hati, lagi seneng dengerin payphone, dan baru aja single.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Hot Summer


by
Yanz


Pada suatu hari *jiaah kaya ngedongeng aja hehe* gak jadi, emm di suatu kota bernama Bandung, baru saja terbentuk suatu boy band yang bernama De’javu dan para personilnya bernama Putra, Randy, Nanda, Sam, Vicky dan Andy.

sudah seminggu para member tinggal satu asrama dan masih dalam proses saling mengenal karena mereka di audisi sebuah perusahaan musik jadi belum saling mengenal satu sama lain.
Mari kita lihat kondisi asrama.

Terlihat di hari minggu yang panasnya semakin terik ini, Randy, Nanda, Sam, Vicky dan Putra sedang mengobrol di depan teras. Rupanya mereka berniat hangout untuk menikmati hari libur, tapi karena panasnya cuaca yang memang lagi musim panas ini, Putra jadi malas keluar buat jalan, dia memilih istirahat, sama halnya dengan Andi, dia lebih memilih berguling-guling di ruangan berAC dari pada menghabiskan tenaga diluar.

Putra melambaikan tangannya dan tersenyum pada teman-temannya yang sudah mulai menaiki mobil dan melaju kencang. Oiya mari saya perkenalkan, ini Putra, leader dan member paling senior di grub de’javu, umur 25 tahun, postur tubuh sedang namun padat dengan otot yang kencang, tinggi 178, kulitnya coklat namun bening dengan senyuman menawan dan berwibawa.

Sekarang, mari kita lihat kondisi Andi, apakah masih berguling-guling ria di kamarnya?

‘Eeenghhh…. Aaaaaahh…. Ooooooohhh….’ Terdengar desahan suara gadis dari hp yang Andi genggam, tentu kalian tau dia sedang apa? Kondisi yang sepi Andi manfaatkan untuk menonton bluefilm dan bermain-main dengan ‘juniornya’.
Hmmm… si bungsu satu ini walaupun memiliki angel face dan masih muda tapi sangatlah mesum hohoho… mari perkenalkan Andi, umur 18 tahun, keturunan cina jadi mukanya imut-imut gimana gitu, selalu sopan dan menurut pada seniornya, dan semua member sangat menyayangi dia.

“Panas banget sih… jadi sange ga jelas ‘kan,” gerutu Andi sambil memeluk guling erat dan terus menatap layar hpnya.

Andi menciumi gulingnya penuh nafsu dan meremas-remas penisnya dari balik celananya, tapi tiba-tiba…

KREEEAKK…

“Loh.. dede ngapain?” Tanya putra yang mendadak membuka pintu kamar Andi.

“Yaampun… kaka, kok gak ngetuk pintu dulu?” teriak Andi dengan wajah yang sangat shock.

“Maaf, lupa de. Hayoo lagi ngapain nih??” goda Putra dengan senyuman iseng.

“Ughh… mau tau saja!” Andi langsung menarik selimutnya.

Putra semakin iseng saja denga tiduran di samping Andi, “Kaka liat kok de, masa coli gak ngajak-ngajak sih de?” kata Putra sambil menarik selimut Andi.

“Ih.. kaka, aku kan malu masa begituan saja harus rame-rame?”

“Gapapalah dede, kan kebersamaan namanya biar hubungan tim kita makin erat,” kata Putra dengan gemasnya menarik pipi Andi.

“Iya kaka…”

“Kaka bantuin pijet ya, de?” kata Putra sambil memijat-mijat penis Andi yang sudah mengeras dari dari.

“Akh… jangan ka, aku malu di pegang-pengang orang lain,” kata Andi sambil menepis tangan Putra.

“Bohong nih dede, padahal sering tuh dimainin ceweknya, atau jangan-jangan sudah sering ‘ehem’ nih,” kata Putra sambil membentuk tanda kutib dengan jari-jarinya.

“Aaah… kaka ini…” kata Andi sambil memonyong-monyongkan bibirnya.

“ Makin imut saja nih si dede, hahaha… udah ya, dede rileks aja jangan takut, mumpung dorm lagi sepi kita senang-senang ya de?” Tanya Putra dan kembali meremas-remas penis Andi.

“Ughhh… ngikut apa kata kaka sajalah,” balas Andi dengan pasrah, Putra pun tersenyum dengan lebarnya.

“Buka semua pakaiannya ya de, biar leluasa,” kata Putra sambil melucuti celana Andi.

Dengan cekatan Putra mengocok penis Andi sehingga membuat Andi mengeluarkan desahan-desahan menggoda, “Ahhhh… ka, uuuuughh… enak banget ka, teruskan aaaaahhh…”

“Hehehehe dede keenakan rupanya,” kemudian Putra memasukkan penis Andi kedalam mulutnya, lagi-lagi Andi tersontak kaget dan menarik tubuhnya menjauh dari wajah Putra.

“Ka-kaka ngapain? Jangan sejauh ini… aku risih,” kata Andi dengan wajah ketakutan.

Putra merangkul bahu Andi dengan lembut, “Dede jangan takut gitu dong, nyantai aja ya, nanti kaka kasih kepuasan deh, dijamin dede tepar, yaaa.. dede mau kan?”

“Errr… ka…” kata Andi sambil menggigit bibir bawahnya. Rupanya dia mulai menyadari ada kejanggalan dari kakaknya ini.

“Iya de?? Hm…” Putra mengecup pelan bibir Andi.

Andi berusaha mendorong tubuh putra dengan hati-hati, “Maaf ka, aku normal, aku ga berani bertindak lebih…”

Tanpa memperdulikan Andi, Putra terus mengecup bibir Andi dengan liar, Andi yang tadinya berontak terpaksa pasrah juga karena tidak sanggup menahan kekuatan seniornya yang lebih hebat.

“Dede, maafin kaka, kaka gak tahan lagi,” ciuman Putra berpindah ke leher Andi, dijilat, dan kadang gigitnya perlahan leher jenjang Andi.

“Enghhhh… aaaahhhh…. O-ooooohhh…. Geli ka…”

“Tuh kan.. dede malah menikmatinya.. udah dede jangan takut, ayo kita bermain sampai puas,” katanya yang menjilati kuping Andi.

“Ughhhh… ahhh… ka…” Andi memeluk erat pinggang Putra.

Ciumannya kembali turun keleher Andi kemudian turun ke dada Andi, dia jilat dan Hisap puting dada Andi dengan gemas sehingga membuat Andi tidak bisa menahan erangan, “Aaaakhh… uuuuhhh… oooooohhh… kaka, geli aaaahk… makin sange rasanya… ughh.. kaka nih gak adil nih, masa Cuma aku yang telanjang? Kaka juga dong!”

“Hahahaha si dede udah berani nuntut ya… nih kaka buka,” katanya sambil melucuti pakaiannya, mata Andi sedikit terbelalak melihat begitu indahnya lekuk tubuh Putra, seperti sebuah karya seni.

“Badan kaka bagus sekali, aku jadi iri kurus banget nih badanku.”

“Nanti juga badan dede bagus, emm gak kurus kok, badan dede sedang dan sangat nikmat untuk dijilati,” katanya kemudian menjilati perut Andi dan memainkan lidahnya di pusar Andi.

“Aaaaah… enak ka… enghhhhh… uuuuuh….”

“De, kita ambil posisi 69 yuk!”

“Emmmh… iya.. aku nurut apa kata kaka saja,” kata Andi, dengan segera dia ubah posisinya seperti yang direncanakan, Andi kini mulai berani bertindak extrim, mungkin terbawa hawa nafsu yang semakin tinggi, Andi mengocok penis putra dan menghidap bola-bola milik seniornya tersebut.

Putra hanya terseyum senang melihat partnernya sudah mulai aktif, dia juga tidak mau kalah, dia hisap penis Andi kuat-kuat dan meremas-remas bola Andi, kadang juga dia masukkan jari tengahnya ke lubang anus Andi, dan Andi sedikit menggerang disela-sela aktifitasnya.

Tak lama kemudian, setelah puas saling isap Putra mempercepat kocokannya pada penis Andi dan Andi pun tidak bisa menahan lagi… CROOTTT… CROOOTTT… CROOT…

“Oooooooohhh… aaaakhhhhhh….” Erangan Andi semakin kencang dan Andi juga berniat melakukan hal yang sama pada penis Putra, tapi sempat Putra cegah.

“Jangan dulu de, belum waktunya permainan kita berakhir,” katanya sambil mengecup bibir Andi lagi.

“Kenapa sih ka?? Kan belum adil.”

“Tunggu sebentar ya de,” Putra mengambil pelicin yang kemudian ia gunakan pada tangan dan penisnya, Andi sedikit menelan air liurnya melihat pemandangan yang begitu nikmat, musim panas ini membuat orang-orang cepat berkeringat dan lelehan keringat di tubuh sexy Putra membuatnya semakin menggiurkan.

“Maaf ya de,” dia buka lebar paha Andi dan masukkannya jari satu persatu dalam lubang Andi dan sukses membuat Andi berteriak sejadi-jadinya.

“Argghhhh…. Aaaaaaaahhhh… sakitt.. hikh..” erang Andi.

“Sabar ya saying, ini belum seberapa,” tanpa memikirkan rasa takut Andi karna menurutnya lubang Andi sudah siap dijamah, dia masukkan penisnya yang masih keras itu ke dalam lubang sempit Andi.

“Akkkkhhhh… Ooooohhh…. Aaaaaah… Ah.. hikh…” erangan Andi disertai tangisan menggema di ruangan itu.

‘’Sabar ya dede sayang ngeeehhh… oooohh…” Putra mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, dia hisap juga puting dada Andi untuk memberikan rangsangan lagi, dia kocok juga penis Andi yang sempat lemas namun kini tegang lagi.

“Sakiiittt… oooooohh… aaaaaahhh..” Andi memeluk erat pinggul Putra.

“dede, udah mau keluar aahhhh…” Putra mempercepat enjotannya dan remasan tangannya pada penis Andi CROOTT… CROOOTTT.. CROOTT…

Tubuh mereka berdua menjadi basah bermandikan sperma saat mereka klimaks secara bersamaan.

“Maaf ya dede, kamu jangan nangis lagi dong,” kata Putra sambil mengecuk kelopak mata Andi yang berlinang air mata.

“Sakit banget di bawah situ ka.”

“Sabar ya de, nanti juga hilang dan lama kelamaan akan enak.”

“Hikh…”

“Maaf ya de, kaka janji akan bahagiakan dede asal dede nurut terus sama kaka.”

Andi menatap Putra seolah minta belas kasihan dan Putra mengecup kening Andi, “Kaka… aku saying kaka,” kata Andi tanpa terduga.

“Iya de, kaka juga sayang banget sama dede,” Putra langsung memeluk kepala Andi dan mereka tertidur.

END
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Cinta Bersemi Di Seberang Rumah


CINTA hadir tanpa batas yang memberikan dirinya aba-ava kapan akan maju atau mudnur...tetapi datang begitu saja tanpa kamu sadari ketika dirnya hadir di hatimu...

Dimas, seorang eksekutif muda berusia 28 tahun, tampan, berwibawa, gagah dengan postur yang memikat. tubuh kekar dengan kulit sawo matang yang pekat dan seksi...senyuman manis, gigi putih dan lesung pipit yang memberikan harapan akan cinta yang tulus...
ya, dirinya telah menikah 2 tahun yang lalu...memiliki seorang bayi dan seorang istri yang cantik...keluarga yang bahagia menurut ukuran orang kebanyakan...

memiliki rumah dan kehidupan yang memberikan segalanya membuat Dimas nampak puas dengan apa yang telah di capainya saat ini, tetapi tinggal dalam sebuah komplek yang masih baru dan asing membuat dirinya tak banyak mengenal orang di sekitarnya, apalagi dirinya sangat sibuk dengan segala kegiatan hariannya di kantor sebuah properti ternama...

Chris, mahasiswa yang baru menginjak usianya yang ke 21, lahir dalam sebuah keluarga yang terlalu sibuk dengan bisnis perdagangan mereka serta ketidak harmonisan orang tuanya membuat dirinya sangat merindukan kasih sayang seseorang yang bisa mengayominya. pribadinya menjadi sangat angkuh, sombong dan arogan...hidupnya hanya dihabiskan untuk menghamburkan uang dan berpesta menikmati segalanya...

apalagi fisik Chris yang memang sangat menawan, tubuh proporsional, wajah oriental dan kulit yang putih mulus...dengan senyuman khas anak kecil yang begitu polos...

setiap pagi Chris selalu melakukan joging pagi dengan mendengarkan ipod yang sengaja disetelnya keras-keras...secara rumah Dimas dan Chris berdampingan, mereka selalu bertemu ketika sama-sama hendak melakukan olahraga pagi mereka...
Dimas adalah pria yang ramah, selalu memberi senyumannya kepada setiap orang, termasuk Chris,tetapi apa yang di dapatnya hanya wajah dingin Chris yang langsung berpaling hilang dari pandangannya...

tatapn wajah dingin tersebut tidak membuat Dimas kesal tetapi penasaran, siapa diri tetangganya itu?
masih muda, hidup sendiri dan selalu pulang malam setara dengan dirinya yang bekerja...

selain itu, Dimas memperhatikan tubuh Chris yang begitu proporsional, otot-otot muda yang masih dalam proses pembentukan, tubuh sekal, dan BOKONG yang montok...Dimas terangsang melihat gerakan joging Chris yang membuat pantatnya bergoyang naik dan turun...

Dimas, tertawa geli,padahal dirinya sudah menikah...sejenak Dimas tersadar mengusir pikiran tersebut...
Chris, hanya terdiam...memikirkan kejadian tadi...sekian lama dirinya berada di lingkungan tersebut...hanya 1 orang satpam yang dirinya kenal...bahkan tak pernah ada yang memberikan senyuman pada dirinya...tapi laki-laki ini berbeda...nice smile...Chris hanya berpikir bodoh untuk menginginkan laki-laki str8 macam dia dalam pikirannya dan mngembalikan kesadarannya pada kenyataan bahwa dia tak butuh seseorang...

Waktu berjalan cepat, setiap hari bertemu setiap hari memandang dan setiap hari hanya memberikan senyuman...Chris yang sadar dengan keadaan tersebut memberanikan diri membuka percakapan...
"hi..."
"Hi too...apa kabar?" dimas membalas dengan hangat...
"hampir setiap kali ketemu kamu tersenyum, aku nggak pernah nyapa...maaf dengan???"kalimat menggantung Chris yang ujungnya dilanjutkan oleh Dimas...
"Dimas...nama gw Dimas..."
"maaf, kita belum sempat kenalan..."
"belum sempat atau kamu yang berlalu terlalu cepat dari pandangan aku..."
kalimat godaan yang diiringin dengan senyuman nakal yang memberi pesona maskulin dalam tatapan mata Dimas...
Chris hanya memerah mukanya..."kita lari bareng?" ajak Dimas mengalihkan pembicaraan...

Dimas bercerita semua tentang keluarga dan perkawinannya...kehidupan yang begitu sempurna...lahir dikeluarga sederhana yang berkecukupan, mendapat beasiswa s1 dan s2 yang didambakan, serta seorang istri yang adalah teman kuliah dan anak bayi yang manis dan cantik...

kebalikan dengan Chris yang nggak terlalu jelas dimana kedua orang tuanya berada, mereka hanya mengirimkan uang-uang dan uang...
Dimas sangat tersentuh...mereka duduk setelah berlari cukup jauh...
Dimas, merangkulkan tangannya di pundak Chris...mendekapnya dekat dan membelai rambut dikepalanya...
Chris merasa sangat nyaman...
"jangan takut, kita semua memiliki masalah...tetapi semuanya akan baik-baik saja pada waktunya..."
kalimat dimas yang menguatkan Chris...

Mereka berpisah setelah ngobrol beberapa saat...kegiatan yang mengharuskan mereka berpisah...
waktu yang berjalan cepat membuat semuanya berakhir cepat pula...pukul 23.30, hampir tengah malam...Dimas baru pulang dan mengetuk rumah, ternyata dirinya lupa membawa kunci rumah...
Chris yang mendengar mobil dimas yang datang sedikit senang dengan hal tersebut...membuka pintu rumahnya dan menanyakan ada apa dengan diri Dimas...

"Hem...hi...malam..."suara ragu Chris memecah keheningan...
"Oh,hi malam Chris..."
"ada apa kak...boleh ku bantu?"
"aku kehilangan kunci rumah atau bahkan aku nggak bwa...tadi kekantor aku kesiangan jadi buru-buru..."
"wah, pasti karena aku yah ngobrol..."wajah polos Chris memberikan keibaan dalam hati Dimas...
"no...bukan salah kamu, aku kurang tanggung jawab..."sambil menepuk pundak dan mengelus sejenak pipi Chris...dirinya begitu terbua...
"Kak...apa malam ni ngipa di rumah aja...uda kemaleman juga, lagian dingin kan disini, bangunin orang rumah juga kasihan..."
"iya juga sih...tapi..."Dimas yang ragu langsung di hardik oleh Chris...
"sudah lah...kalo kakak nggak mau aku merasa bersalah nih..."Tatapin Chris yang merasa bersalah pada Dimas tak mampu di tokanya...

Dimas menginap malam itu di rumah tetangganya...ya Chris...
melihat isi rumah yang begitu lux walau tipe minimalis di luar...dimas emastikan Chris adalah orang yang berkecukupan bahkan lebih...
menyusuri rumah, melihat beberapa majalan dan terselip majalah GAY...nampak oleh Chris dan dengan sigap dimas menyembunyikannya...

Dimas bergegas mandi, handuk dan baju hangat disiapkan seta celana pendek yang cukup untuk Dimaspun sudah disiapkan...
selesai mandi engan mengenakan handuk yang membalut bagian pingganggnya saja Dimas menghampiri Chris...
"Chris, bajuku dimana?"
Chris yang tersentak melihat tubuh Diman dengan dadabidang dan otot six pac di perutnya dengan bulu halus menelusur di setiap lekukannya...

"maaf kak, aku cuci...aku uda siapin baju kaka di atas meja kamar tamu..."
Chris langsung bergegas kedapur dan sejadinya menahan tawa geli, girang atau hasrat yang dirasakannya...

Chris yang sedang menutup wajahnya karena malu...kaget dengan sebuha sergapan memeluknya dari belakang secara cepat...mendekapnya erat dan hangat...Chris hanya menganakan celana pendek ketat dan tengtop, ada suara berbisik...
"maafkan aku...kamu begitu MENGGODA pikiran ku..."
Dimas...itu suara Dimas...

Berbalik dan menatap mata Dimas...GAIRAH, HASRAT SEXUAL dan LUAPAN keinginan bercinta nampak dalam api dimatanya...
"G mau lo menjadi pemuas gw...lo HOMO kan, lo suka sama KONTOL kan..."
Chris hanya diam agak tersentak kaget, takut tetapi begitu bahagia...
menyentuk tubuh maskulin Dimas, menempelkan tangan di dadanya dan melihat KEJANTANAN Dimas yang begitu indah dengan bulu-bulu lebat di sekelilingnya...

sergapan cepat, tangan dimas di rambut Chris, mengarahkan pertemuan BIBIR Dimas dengan Chris...menciumnya begitu hangat dan dalam, ciuman cepat dengan sedotan yang kuat dari seorang pria yang tampan dan perkasa...menunjukan arogansi dan otoritasnya terhadap bibir Chris...

Dimas membuat Chris berjongkok, mengahadapkannya pada BATANG KEJANTANANNYA yang Ngaceng...Chris tau yang diminta dan diinginkan Dimas, segera menghisap KONTOL Dimas dengan nafsu yang membeludak...
KONTOL dimas yang hampir mencapai 20 cm, memenuhi rongga mulut Chris...

menariknya kembali naik...dengan tetap menjambaknya, membenamkan wajah Chris di KETIAKNYA...Chris menjilati dengan segera, menelusuri ketiak tersebut...aroma wood dan musk dari sabun yang begitu maskulin...menelusuri dada bidangnya sampai pada pUTING SUSU Dimas yang hitam dan besar...menjilatinya bagai seorang anak kecil yang menjilati gula-gula...

Dimas kemudian menelanjangi tubuh Chris, membuka pakaiannya...berganti menghisap PUTING SUSU Chris...menegakan tubuh Chris hingga bergeliat kenikmatan dengan permainan lidah dan Bibir Dimas di PUTING SUSU Chris...tubuh mulus dan putih bersih...
segera membuka paksa celana pendek ketat Chris dalam keadaan berdiri dan membalikannya sehingga Dimas dengan leluasa mencumbui bagian belakang Chris...

Dimas menyusuri setiap jengkal tubuh Chris dibagian punggungnya hingga ke PANTAT...membuka bagian ANUS Chris...menjilatinya dan sesekali memukul BOKONG Chris...
Menjilati LIANG DUBUR Chris...memberinya rangsangan hebat bagi Chris...
KONTOL Chris NGACENG...Dimas mengocoknya dari belakang...tetapi tak lama Dimas bangkit dan menggigit-gigit kecil telingan Chris...
"ini saatnya..."
"hem..."Chris hanya mendesah...
"saatnya g bukatikan kejantanan g...BATANG KONTOL gw akan membenam dalam tubuh lo, Lo mau kan?"
"aaaccchhh..."Chris yang birahi hanya mendesah...
Dimas menggesekan BATANG KONTOLnya di sekitar PANTAT Chris...
Mereka berdua larut dalam birahi mereka...
"Rasakan nih KEJATANAN BATANG KONTOL gw..."

Dimas melumasi batang KONTOLnya hanya dengan ludah...memaksakan masuk pada LIANG ANUS Chris...
sedikit sakit...tetapi mudah karena Chris memang sudah sering melakukannya, tetapi bukan dengan PRIA SEJANTAN Dimas...
"sekarang gw ENTOT lo..."
"FUCK me harder beby..."achhh achhh achhh...

Dapur tersebut menjadi saksi bisu...
Dimas MENGENTOT Chris dengan berdiri...melakukan gerakan keluar masuk, MEMBENAMKAN BATANG KEJANTANANNYA di dalam DUBUR Chris...gerakan dengan ritme yang sesuai...
sesekali mereka berciuman...Dimas mengagumi bibir cantik Chris...

beberapa lama Dimas berganti gaya, membaringkan Chris di atas meja dapur dan kembali MENGENTOT LOBANG DUBUR Chris yang memerah akibat gesekan KONTOl Dimas...mencumbuinya hingga puas...
BATANG KONTOL Dimas membenam puas di sana...Dimas kemudian menggendong Chris sambil tetap ENTOTAN dilakukan...berciuman begitu lama...

Chris tak kuasa menaham ORGASMENYA menyemburkan cairan putih kental, CAIRAN KEJANTANANNYA ke tubuh Dimas...
Dimas masih tetap menggenjot ENTOTANNYA...
hingga hampir 2 jam...Dimas memulai orgasmenya...mengocoknya Di dalam MULUT Chris...menumpahkan cairan PRJUH terseput tepat di tenggorokan Chris...

mereka kelelahan...saling berpelukan dan beralih kedalam kamar tidur tamu, Dimas memeluk Chris di dadanya...
mereka terus saling berciuman...tersenyum dan memberikan gerakan-gerakan jahil diantaranya layaknya pasangan baru...
"Dim..."chrs memanggil Dimas dengan nama..."apakah ini serius atau lo menjadikan g pelampiasan lo"
"Chris aku ngak mengerti dunia seperti ini dan kenapa gw melakukannya sama lo, tapi sejak pembicaraan kita atau bahkan pertemuan pertama kita...g sangat menaruh perhatian sama lo...apalagi g tau masalah lo, semakin rasa untuk melindungi lo semakin besar..."

"tapi lo uda punya istri Dim?"
"semua bisa di atur...kita kan tetangga..."Dimas tersenyum nakal...
tetapi Chris tetap takut merasa kehilangan...
kelelahan menghampiri mereka dan membuat keduanya lelap tertidur...

Hari berganti, semuanya tetap berjlan baik hanya yang berubah...kini tetangga tercinta semakin Akrab...Dimas dan Chris selalu jalan bersamaan..joging, mengantar ke kampus dan makan malam rahasia diantara keduanya...
Dimas menemukan perasaan baru terhadap laki-laki (Chris) cinta yang membuatnya begitu bernafsu...
Chris, mulai meyakinkan dirinya untuk merubah keadaan dari seorang hedonis menjadi pembangun lingkungan sosial...
Hubungan mereka tetap menjadi rahasia...rahasia TETANGGA di SEBERANG RUMAH...
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sunset Terakhir (Fiksi) Part 4





 By. Ajieseno
Ini mungkin memang sudah jadi garis hidupku..
Aku terdampar di ruang tahanan ini
Sungguh aku tak mengira akhirnya berurusan dengan yang namanya polisi.

Ruang tahanan ini tidak begitu luas
Di pojok terdapat ruang toilet kotor.
Alas tidur hanya tikar…
Akhh…bagiku tak masalah, bukankah aku terbiasa dengan udara malam yang dingin.

Ini mungkin akibat karena aku tak bisa mengendalikan diri
Tak bisa menahan emosi
Entahlah, aku yakin, suami manapun akan berbuat seperti yang aku perbuat.
Dan emosi memang telah membutakan mataku.

Aku terduduk lesu…
Tadi selama hampir lima jam aku di periksa
Di cecar dengan bermacam pertanyaan dengan nada emosi
Dan dari sini aku yakin, aku semakin benci pada polisi.
Dan disini aku paham..hukum rimba berlaku, siapa berani, dia yang menguasai.
Termasuk dengan polisi penyidik…
Tadi, ketika polis membentakku, aku juga ganti membentak.
Bahkan kugebrak mejanya….
Aku tak boleh terlihat lemah…
Disini, siapapun yang terlihat lemah, hanya akan jadi makanan empuk bagi yang lainnya.

Aku terduduk lesu di pojok ruangan..
Pikiranku kosong..
Capek, ngantuk dan penat luar biasa menderaku.
Kulihat bondan tidur dengar suara dengkuran yang keras
Di sampingnya pemuda cina yang terlihat sedemikian lemah juga tertidur
Hah?...bukankah dia tidak mirip penjahat? Kenapa di tahan?
Wajahnya sedemikian polos…jauh dari kesan angker
Rambutnya yang lurus hitam sebagian menutupi dahinya
Dia meringkuk, sepertinya merasakan kedinginan
Kulitnya putih pucat, sangat kontras dengan kulit bondan yang hitam legam
Dan di sudut yang lain, lelaki jangkung kurus, dengan tulang-tulang yang terlihat menonjol
Dia belum tidur..
Sorot matanya kosong…
Dia mirip orang stress.
Akhhh…disini aku menemukan dunia yang aneh dengan manusia-manusia yang aneh pula.
Dan dalam sekejab aku telah tidur diatas tikar lusuh tanpa bantal.


*********

Kubuka mataku pelan
kurasakan ada ujung jari kaki seseorang mengusik tidurku
Jari kaki yang berusaha membangunkanku.

Yang kulihat selanjutnya suasana remang terasa.
Aku mengejab-ejabkan mataku mencoba untuk membuka mata di tengah badai kantuk.
“maass…bangun mas…” suara membangunkanku sangat lirih dan pelan

Aku langsung bangkit terduduk
Dan baru kusadari sekarang, lelaki kurus dan ceking membangunkanku.
“ada apa?”
Sepi sekali…
Mungkin ini sekitar jam dua malam

Lelaki itu menoleh dan menunjuk disudut ruangan lain
Kulihat dengan rasa tak percaya….
Dua tubuh bertumpuk..
Keduanya membelakangiku sehingga tak melihat ketika aku duduk mengamatinya.
Tubuh yang atas aku yakin itu bondan
Dan yang bawah…hmmm…cowok berkulit putih itu.
Mereka bersetubuh
Tidak ada erangan..
Hanya dengus nafas keras si bondan terdengar
Aku melotot tak percaya..
Baru kali ini aku melihat peristiwa sodomi.
Tubuh gempal bondan terlihat sangat cepat menusuk pantat cowok itu..
Dia tak berdaya…
Tidur tengkurap dan terkulai.
Aku masih terbengong tak percaya

“mas…”pemuda kurus kembali berbisik
Aku menatapnya
“masse itu di perkosa mas, dia kelihatannya sudah mati”
“hah” aku kaget
Pantas saja cowok berkulit putih itu terkulai
Mungkinkah dia mati?

Ini perkosaan!
Biadap…
Keji..
Ini mirip hewan saja
Naluriku kembali bangkit
Emosiku meluap…

Rasa kantukku tiba-tiba lenyap
Aku bangkit…

“hey anjing….kau apakan lelaki itu hah?” aku berteriak keras

Si bondan menggelinjang kaget
Dia menghentikan aktifitasnya

Diapun bangkit dan berdiri
Tubuhnya sungguh jelek
Hitam gendut dan dalam keadaan telanjangpun dia tetep terlihat jelek
“hehehehehhee….anak manis, kamu juga ingin mencicipi kontolku ya?”
Aku berdiri membeku
Darahku mendidih…..
Pelan bondan mendekatiku
Kontolnya yang hitam dan besar tegak mengacung
Dia masih tersenyum mengerling…
Berjalan pelan mendekatiku…
Di tinggalkannya tubuh cowok cina yang terkulai tak berdaya di lantai
Dan…
Kali ini aku benar-benar waspada…
Kugenggam pisau lipat kecil di tangan kiriku.
Aku tak peduli lagi…
Sudah cukup banyak kejadian hari ini yang membuatku gila….
 
Bersambung...
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sunset Terakhir (Fiksi) Part 3


By. Ajiseno

Sepeda motorku berjalan menyusuri jalanan kota Tangerang
Entahlah perasaanku saat ini sungguh tak enak
Beberapa kali ada gosip, kalau euis…istriku sering ‘dibawa’ laki-laki lain
Beberapa kali, tetanggaku katanya melihat memasuki losmen
Tapi aku tak lantas percaya begitu saja
Euis…begitu manis kalau di rumah
Rasanya tak percaya saja, kalau dia sampai selingkuh
Cuma…tak tahulah…
Akhir-akhir ini dia sering membeli barang bagus
Hmmm…bukannya itu adalah kewajaran bagi seorang wanita?

Istriku berasal dari daerah kuningan
Sedangkan aku dari kalimantan tengah
Kami bertemu di tangerang
Masa pacaran kami cukup singkat hanya sekitar tiga bulan
Sebuah acara pacaran yang ‘panas’ dan tak terkendali
Hingga istriku hamil duluan sebelum kami menikah
Akhhh…..
Aku memang masih begitu muda dan jauh dari pantauan orang tua
Gejolak birahiku begitu gampang tersulut oleh sentuhan jemari wanita
Apalagi…euis sedemikian cantiknya
Dan…
Akhirnya kami menikah…
Walau saat menikah aku seperti sendiri
Ibuku yang sudah tua dan miskin tentu tidak dapat ke pulau jawa
Demikian juga dengan kakakku satu-satunya
Memang kami dari keluarga miskin

Pernikahan kami digelar dengan sederhana
Selanjutnya kami kembali ke tangerang…meneruskan hidup berdua
Dan….
Sepertinya petaka sehabis perikahan datang
Aku di PHK oleh perusahaan meubel tempatku bekerja
Beberapa waktu lalu, pabrik meubel tempatku bekerja terbakar
Dan selanjutnya….ada pengurangan pegawai secara besar-besaran
Istriku sejak menikah juga keluar dari buruh pabrik garmen
Jadilah kami berdua pengangguran….

Dan…satu-satunya keahlianku yaitu tambal ban
Akhirnya aku membuka kios kecil tambal ban sepeda motor di pinggir jalan
Dari sinilah aku berusaha menafkahi keluargaku

Dan istriku bekerja di salon yang tidak terlalu jauh dari rumah
Aku tak paham dengan pekerjaan salon
Yang kutahu pekerjaan salon bukanlah pekerjaan yang berat
Sehingga kuijinkan walau dia dalam kondisi hamil
Sebuah perjuangan hidup yang keras di ibu kota

Aku mengendarai sepeda motorku dengan pelan
Suasana panas kota Tangerang tak kuhiraukan
Dan salon tempat istriku bekerja sudah nampak
Sebuah salon yang sebenarnya tak begitu besar dan ramai
Sebuah salon biasa…

Dan pelan aku berhenti di bawah pohon….
Menanti …
Menanti sebuah kebenaran akan kabar miring tentang istriku
Akhhh….mengapa juga aku percaya?
Bukannya gosip dalam sebuah rumah tangga itu adalah hal yang biasa?
Tapi aku sedemikian penasaran
Ketika kemaren tetanggaku bilang
“coba saja jam sebelas siang…saat istrimu istirahat, kamu pasti akan tahu…”
Dan sekarang jam 11 siang
Saat jam istirahat siang…

Aku menunggu…
Seperti mata-mata..
Menunggu istriku keluar
Jam seperti terhenti berdetak
Terasa sedemikian lama
Dan…
Akhirnya terlihat juga…
Istriku keluar…
Dengan seragam kerja yang sexy
Istriku memang cantik
Di belakangnya….
Seorang lelaki setengah baya
Berdasi, berjas….berjalan sambil merokok

Dan….diriku….tercengang
Bagai di sambar petir
Melihat Keduanya masuk ke dalam sebuah mobil
Aku sepertinya tak lagi menginjak bumi

Akhhh…rasa penasaranku belum jga habis
Mobil bergerak
Dan….
Dengan cepat aku mengambil sepeda motorku
Membuntutinya…..
Akhhh….sungguh aku tak mengira
Sungguh tak mengira
Istriku selingkuh di belakangku
Benar saja…
Benar saja….
Mobil menuju losmen yang tak jauh dari salon…
Dan aku terhenti
Lemas sudah seluruh ragaku dengan pemandangan di depanku
Sekali lagi…aku benar-benar tak percaya

************

“Gubraaakkkk”
Sebuah sentakan kakiku yang dengan sekuat tenaga menjebol pintu kamar losmen.
Aku baru sadari, kekuatan seseorang di puncak emosi sedemikian dasyat.
Hanya dalam satu sentakan kaki, pintu kayu ini lepas dan pecah.

Aku berdiri kaku….
Di belakangku dua orang pegawai losmen berdiri gemetar.
Tadi aku sempat bertengkar dengan pegawai losmen.
Aku ingin kunci kamar yang di tempati istriku.
Tapi sepertinya semua menutupi adanya istriku di salah satu kamar losmen ini.
Akhirnya aku paksa….
Kukeluarkan golok dari bali bajuku…
Kuseret dan kuancam…
Kusuruh menunjukkan kamar tempat istriku berzina dengan lelaki hidung belang.

Dan sekarang aku berdiri kaku…
Emosi telah menguasai jiwaku..
Hatiku mendidih..
Tubuhku bergetar hebat, hingga tangan yang sedang memegang olok rasanya ikut tergetar.

Di depanku…
Di sana.
Tak jauh dari aku berdiri terpaku
Sepasang manusia tanpa sehelai benangpun melompat dari ranjang.
Darahku benar-benar mendidih menahan emosi
Mataku tak berkedip serasa tak percaya..
Di depan sana..
Diatas ranjang…
Euis istriku, bugil dan beringsut di pojok kamar
Tubuhnya menggigil ketakutan.
Kulihat tangannya menggapai apapun untuk menutupi tubuhnya.
Dan di sampingnya…
Keadaan yang sama
Seorang bapak-bapak gendut
Dengan tubuh penuh peluh
Melotot memandangku.

Pelan aku melangkah…
Mendekatinya…
Seperti harimau yang akan menerkam korban yang tak lagi berdaya

“mas..mass…tahan emosi mas…masss…” suara petugas losmen penuh ketakutan
Aku tak lagi peduli
Emosi telah menguasaiku
Ada rasa marah, kesal menyatu dalam darah yang mendidh

“hey…siapa kamu hah?” suara lelaki gendut sambil melotot memandangku
“mas….” Hanya itu yang kudengar dari desisan lirih istriku
Aku tersenyum mendekat…
“akuu? Hmmmm…pengin tau siapa aku? Aku pencabut nyawamu, halal darah seorang pezina seperti kalian”

Lelaki itu melotot kaget…
“mas..sabar mas, ada apa ini?” suara bergetar dari lelaki di ranjang

Aku tak lagi peduli..
Kuangkat golok yang berkilau terterpa sinar lampu kamar
Dan…
Wajah sepasang pezina ini makin pucat…
Bergetar…
Sorot mata penuh ketakutan.
Dan…
Aku tak lagi peduli…
Yang kutahu, dua orang ini haruslah mati…
Saat ini juga!

***********

Dengan cepat aku melompat..
Tanpa sempat dia menolak, sudah kududuki dadanya dan kutempelkan golok tepat di lehernya
Dia terpekik
Wajahnya pucat..
Tubuhnya bergetar hebat…
Sangat ketakutan…

Tak lagi kupedulikan istriku yang semakin menjauh dengan membungkus tubuhnya dengan selimut losmen yang kumal
Tak kupedulikan dua orang petugas losmen yang berteriak-teriak menenangkanku

“amm…ammmpun mas, mas siapa?” dia benar-benar gelagapan
Aku tersenyum…
Dalam hati…masih ada waktu sedikit untuk menggorok leher lelaki bajingan ini.
“kamu punya istri?”
Dia mendelik bingung
Golokku semakin menekan lehernya
Ada darah mulai keluar menetes
Tubuhnya semakin tergetar ketakutan…
“kamu punya istriiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…?????” aku berteriak keras sekali
Dia tersentak kaget
“iya…iiyyyy…iya”
“bajingan kamu!” aku berteriak lagi kalap

Dia semakin ketakutan
Aku kembali tersenyum…
“kamu tahu nggak, dia istriku! Gimana rasanya kalau kamu lihat istrimu sendiri di entot orang lain hah? Bajingaaannnnnn…kamu pantas mati!”

“ma..ma..mas…..” dia gelagapan
Kulihat kedua tangannya terangkat
“ma…ma…maaf…” dia berusaha bicara sekena mungkin
Aku tak peduli
Kuangkat golokku cepat
Kulihat keringat deras membasahi wajahnya yang bergetar hebat

“mas fajaaaarrrrr…..” istriku menjerit
Aku menoleh marah kearahnya
“mas…jangan bunuh dia..jangaaannn….bunuh aku saja,aku yang salah! Aku yang ngajak dia…aku yang salah mas…bunuh aku saja mas..” istriku menjerit sambil menangis histeris

“diam lonte busuk!” aku berteriak keras sambil menempelkan ujung golok tepat di wajahnya
Kulihat istriku juga tergetar ketakutan
Selama bersamanya hampir aku tak pernah marah
baru kali….baru kali ini kesabaranku habis…
“diam kamu lonte…pelacur busuk..penyakit..anjing betina….nanti kamu juga aku bunuh …harus …harus kubunuh” aku melotot marah luar biasa.
Kedua tangan istriku juga terangkat …
Selimut yang menutupi tubuhnya melorot
Memperlihatkan payudaranya yang putih
Cuihhhh…tiba-tiba aku mual melihat tubuhnya….
Tubuh busuk bekas orang lain
“masss…sabar mas…”istriku kembali memohon
“diaaaammmmm…!” aku kembali menjerit

Kembali kuarahkan golok tepat di leher bandot tua
Lehernya yang besar mulai mengeluarkan darah…
Aku tak ingin membunuh dengan cepat
Pelannn……
Seperti menyembelih ayam
Kutekan golok…
Dan darah mulai deras keluar…
Kudengar istriku menjerit panjang minta pertolongan
Tapi semua tak lagi dapat menghentikanku
Bandot tua ini mulai gelagapan
Dadanya naik turun tajam kurasakan di pantatku
Seiring dengan darah yang semakin deras keluar di mata golokku.

*************

“jangan bergerak! Angkat tangan! Jatuhkan senjata ke samping! Cepat! Kami hitung sampai lima hitungan…” suara keras di belakangku.
Dengan cepat aku menoleh…
Dua orang polisi dengan pistol langsung terarah ke arahku…
Polisi itu mulai menghitung
Tiba-tiba emosiku lenyap seketika…
Kuangkat tanganku..
Dan kujatuhkan golok sesuai instruksinya.
Aku menyerah..
Tapi aku puas.

Dan tanpa kusadari, kedua tanganku telah ditekuk ke belakang
Aku diborgol, mirip pencopet yang ketangkap.
Dengan kasar tubuhku ditarik keluar…
“anda kami tahan untuk kami mintai keterangan!” kata salah satu polisi muda yang memborgolku.

Sempat kudengar istriku menangis menjerit-jerit histeris
Dan kehebohan dalam kamar losmen….
Beberapa polisi dan karyawan hotel tumpah…memasuki kamar losmen.
Aku tak tahu lagi selanjutnya
Yang kutahu dengan kasar polisi menaikkanku ke mobil tahanan
Di bak terbuka…
Dengan tangan terikat borgol.
Yang kulakukan saat ini, aku harus bersikap setenang mungkin…
Kuambil nafas panjang…
Kuhirup lagi agar ketenangan memasuki jiwa.

Dengan cepat aku dimasukkan dalam sel tahanan kepolisian…
Suara pintu jeruji sel gemmerincing ketika di buka
Dan dengan cepat borgol dibuka dan tubuhku di dorong masuk ke dalam…
Semua serba kasar menurutku.

Dengan cepat aku duduk bersandar di tembok dingin yang kusam.
Kutengadahkan kepalaku sambil kupejamkan mata…
Akhhh…akhirnya aku di tahan juga untuk urusan kriminal
Sebuah perjalanan hidup yang mungkin harus kulalui.

“selamat datang di istana kita…” suara berat tiba-tiba terdengar di depanku
Aku kaget
Kulihat di depanku….
Ada tiga orang duduk..
Semua bersandar pada tembok

Seorang bertubuh gempal, bertatoo di lengan dan mungkin sekujur tubuhnya
Berkulit hitam…sorot matanya kejam, aku paham…pastilah orang ini suka mabuk
Bau badannya menyengat, sangat tidak enak….

Seorang lagi, lelaki muda…mungkin usianya dua puluhan tahun, berkulit putih dan berwajah pucat….kurus dengan rambut awut-awutan tak beraturan.
Sorot matanya kosong, mungkin juga dia tidak tahu kalau aku hadir di ruangan ini.

Satu lagi, bertubuh tinggi, kurus, dengan rahang menonjol saking kurusnya.
Bibirnya tebal berwarna kehitaman…dia cuek sambil terus menghisap rokok.

Semua penjahat…
Aku yakin semua penjahat…termasuk diriku saat ini.
Aku tersenyum masam setelah menyadari bahwa semua penjahat…..

“nama kamu siapa anak manis?” tanya yang gendut bertatto
Kurang ajar! Aku dikatain anak manis…
“fajar” kataku cuek tanpa rasa ingin tahu namanya.
Dia mendekatiku…
Bau badannya semakin menyengat
Dia merangkul pundakku..
Aku semakin risih saja, ingin sekali menghindar, tapi aku tak ingin dia tersinggung
Aku diam saja…
Aku tak ingin membuat masalah baru..
“namaku bondan….”
Aku terdiam saja..
“kenapa kamu kesini? Kasus apa? Aku kasus pembunuhan” suaranya berat sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang kuning kehitaman.
Nafasnya bau sampah…
“sama!” ujarku ketus
“hahahahhaha…waduhhh…anak manis ini ternyata bisa kejam juga ya? Aku nggak mengira, pake apa?”
“apanya?”
“membunuhnya pake apa?”

Kutatap matanya..
Aku nggak boleh terlihat lemah dihadapannya
Ini rimba yang sebenarnya…
Siapa yang kuat, dia yang menguasai.

“pake golok, selesai kubunuh, kupotong-potong tubuhnya, kupotong kontolnya kemudian kusate, kumakan…kumasukkan potongan tubuhnya kedalam kresek…dan kubuang ke tempat sampahhhh…”

Dia melotot kaget
“wowwww…si anak manis ternyata psikopat ya?”
Aku semakin jengkel di sebut-sebut anak manis terus.
Di tersenyum mengejek…
“tapi…tapi disini….hmmm” dia berbisik menyemprotkan bau napas paling memuakkan dipipiku.
“Tapi apa?” aku melotot menantang
“aku yang berkuasa disini!”
“ohhhh…selamat berkuasa ya” jawabku sambil tersenyum sesinis mungkin

Dia sepertinya agak tersinggung dengan kesinisanku.
“hohoho….makasih, dengan demikian semua harus nurut sama aku disini”
“iya” jawabku pendek ingin segera mengakhiri percakapan.
Dia kembali menepuk pundakku..
“heh anak manis, kenapa kamu membunuh?”
“dia selingkuhin istriku!” jawabku ngasal
“hehehehehe…udah punya istri to? Tapi kok senengnya kontol ya?”
“apa?”
“tadi bilang, kontolnya kamu sate dan kamu makan”
“iya…kontol kamu juga pengin aku makan?” jawabku menantang
Dia melotot kaget
“wowww…jangan di makan lah…diemut saja mirip premen”
“hmmmm…dasar, punya kontol kecil saja pamer!”
“hahahahaha….siapa bilang kontolku kecil hah?”
“kamu, tadi bilang kontolmu mirip premen”
“hahahhaha lucu banget ini anak manis”

Aku menatapnya tajam
“aku serius”
“hahahahha maksudmu apaan?”
“aku serius! Kalau kamu macem-macem denganku, kupotong kontolmu kusate dan kumakan”
“hahahhahahaha”
Dia tertawa mengejek.

Kulirik disampingku
Ada piring makan khas tahanan yang kotor dengan sendok diatasnya
Kuambil sendok…
“hahahhahaha..disini mau motong kontolku pake apa? Pakai gigi? Wowww enaaakkk?’
Dia masih mengejekku…

Kutunjukkan sendok di depan matanya
“dengan ini!”
“hahahhahahahahha…kontolku mau disendok”

Aku pernah ikut perguruan tenaga dalam
Semacam bela diri
Bagiku membuat senjata dari sendok sangatlah gampang

Pelan dihadapan wajahnya
Kupotong sendok…
“klik” dalam satu sentakan gagang sendok telah terpotong
Bagian sendoknya kuremas hingga hingga membentuk lempengan
Bagian gagangnya berbentuk berjeruji ….
Kutunjukkan di depan matanya…..
“pake ini..ini tajam..kontol nggak ada tulang, sangat gampang memotong kontolmu pake ini”

Dia melotot kaget…
Beringsut menjauh dari tubuhku
Wajahnya pucat….

***********
Bersambung..
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Sunset Terakhir (Fiksi) Part 2


By. Ajiseno

Perjalanan selanjutnya menyusuri jalanan..keluar dari pusat kota magelang
Fajar terus berceloteh…
Ternyata baru kutahu, fajar banyak omong juga
Sebagian besar yang dibahas tulisan-tulisanku di gif
Aku Cuma senyum-senyum saja menanggapi
Padahal sebenarnya kepalaku mulai berdenyut, aku pusing akibat goyangan di mobil tuanya fajar atau mungkin karena bau bahan bakarnya

Akhirnya pelan mobil menepi
Disebuah bengkel sederhana di pinggir jalan
Terdapat seorang berumur setengah baya sedang manangani sebuah sepeda motor
Beberapa sepeda motor tua tampak berderet di area bengkel
Alat-alat bengkel menambah kesemrawutan bengkel tersebut
Ada bangku panjang di sisi ruangan

“mas aji, ayo turun”
“mau ngapain?” tanyaku heran
Dia hanya menoleh sambil senyum saja
Membuka pintu mobil dan keluar meninggalkanku
Akupun dengan susah payah membuka pintu mobil yang sedemian seret.

Aku berjalan pelan menuju bengkel
Beberapa orang duduk dan ada dua orang jongkok menghadap sepeda motor yang sedang di perbaiki
Bengkel ini lumayan ramai menurutku
Dan seperti biasa, bengkel di area kampung selalu menjadi ajang diskusi tentang otomotif bagi yang awam

Kulihat fajar begitu di kenal oleh orang-orang yang ada di bengkel
Pelan aku duduk disisi bengkel, di bangku panjang yang terbuat dari papan
Disampingku ada dua orang yang kelihatannya sedang menunggu sepeda motornya di service

Kudengar percakapan mereka
“mas fajar..kok baru datang? Tolong mas, motorku ngadat terus” ucap seorang yang duduk disampingku
“walah…maaf jo, baru ada tamu je, ini tamu saya dari semarang, gimana kalau nginep saja, nanti malem kutangani lah”
Orang itu menoleh ke arahku
“sampeyan tamunya mas fajar?”
“iya pak” jawabku sambil senyum dan mengangguk
Kusalami dua orang tersebut
“yo wis kalo gitu, aku tinggal saja motorku, tapi bener lho, nanti malem di tanganin”
“beres lah”

Kulihat fajar mendekati orang yang sedang menservice
“pak to…itu di mobil barangnya, sono diambil aku mau ngenter tamuku”
“ohhh yo, dah dapet to”
Selanjutnya kulihat orang tersebut tergopoh-gopoh menuju mobil dan mengambil kardus berisi sparepart
Fajar duduk di sampingku
“jar kamu kerja disini?”
Dia mengangguk
“woww..berarti kau pinter nyervice sepeda ya? Entar motorku kalau rusak kubawa kesini ya”
“beres lah mas aji, pokoknya kalau rusak bawa sini saja”
‘oke…gratis to?”
“boleh…gratis pokoknya, khusus untuk mas ajiku”
“heheheheh…beres lah, besok lah, pasti kubawa kesini”
“udah yuk, kita kerumah”fajar menarik lenganku

Kembali aku menuju mobilnya fajar
Kupegang kepalaku..pusing, terutama dengan bau bahan bakarnya
Tau pusing gini, tadi mendingan aku mengikuti mobilnya fajar sambil naik sepeda motorku
Dan benar saja…
Baru saja duduk, bau bahan bakar menyeruak
“masih jauh rumahmu jar?”
“nggak kok…tuh”
Fajar menunjuk rumah dipojok jalan sekitar 100 meteran
“mana?”
“itu yang bercat putih”
“ohhh…aku jalan saja ya?”
‘apa? Nggak usah mas, satu menit nyampe kok”
Dan deru mobil kembali terdengar
Benar-benar mobil busuk…baunya begitu menyengat membikin mual dan pusing
Akhh lega rasanya
Akhirnya sampai juga dihalaman rumah bercat putih…
Sepi
Benar-benar sepi..
Seperti rumah tanpa penghuni

*************

Rumah ini benar-benar sepi…
Agak gelap untuk ukuran siang seperti ini
Fajar masuk dengan tergesa dan langsung membuka jendela yang ada disisi ruang
“masuk mas aji…” ujarnya masih cuek mengambil ini itu
Ada beberapa pakaian anak-anak yang diletakkan di kursi tamu
Dengan santai aku duduk di kursi tamu
Fajar langsung ke belakang

Dan…..
Dalam hitungan menit dia telah membawa air minum dan beberapa makanan ringan
Ternyata fajar telah menyiapkan segala sesuatunya untuk ‘menyambutku’
Dia tersenyum…
“Mari diminum mas…hari ini pokoknya aku seneng banget mas aji kesini, ayoo mas”
Kutatap air sirup di gelas
Kuambil…”jarrr…”ujarku pelan
“ya mas…”
“ini nggak diberi obat perangsang to?” candaku sambil pura-pura khawatir
“hahahahhaha…ya iyalah…minum saja mas, pasti entar mas aji terangsang hahahahaha”
Kembali aku terpana pada gigi-giginya yang rapi dibalik tawanya

Kuminum…setengah
“iya neh…aku jadi terangsang jar…gimana neh?” candaku lagi
“wayyyyaakk….langsung bereaksi to?waduhh padahal aku belum siap lho hahahhaha”
Fajar masih saja tertawa
Kalau sudah gini aku akan terus candain dia agar bisa terus melihat tawanya yang manis sekali

“eh jar…”
“ya mas”
“kapan neh mau servis sepedaku?”
“lho sepedanya kan diparkiran masjid”
“ya udah, berhubung sepedanya nggak ada, orangnya aja ya?” ujarku sambil berkedip
“hahahahhaha…boleh…boleh…entar deh kuperiksa businya…masih berfungsi tidak?”
“waduh jar..businya di dalam kan, harus pakai alat untuk membukanya jar, emangnya kamu punya alatnya po?” ujarku senyum-senyum menggoda dia
“heheheheheh…jo kuatir mas, soal buka busi ditanggung ahli lah hahahha”
Fajar masih saja tertawa

Selalu kutatap tanpa berkedip saat dia tertawa
Inilah keunggulan ‘seorang’ fajar
Dia kalau dalam keadaan diam, cenderung ‘berwibawa’ tapi jika sudah tertawa maka akan berbalik seratus derajat…dia cakeeepp sekali.

“jar ..beneran kamu kerja di bengkel tadi?” tanyaku lagi
Kali ini aku dengan raut wajah serius
“bukan..itu bengkel milikku”
“ohh…itu kalau siang mas, kalau malam aku buka warung tenda nasi goreng”
“waduuhhh…nggak capek tuh?”
“yaahhh namanya saja nyari uang mas, ya nggak capek lah”
“wahhh hebat deh….”
“hebat apaan…Cuma punya bengkel kecil gitu aja hebat, mungkin itulah mas, makanya aku nggak berani nongol di GIF, anak-anak GIF sebagian besar kan anak kuliahan mas, kalaupun kerja kebanyakan pegawai kantoran kayak mas aji ini, uhhh minder juga mas, apalagi aku kan kerjaannya kotor…di bengkel gitu”
“waahhhh jangan gitu dong, kamu tuh hebat…bener hebat jar, aku aja nggak bisa siang malam kerja kayak kamu, lagian sekecil apapun bengkel kamu jar, ini adalah usaha kamu, bedalah sama aku, aku kan bekerja untuk orang lain, tak ada kebanggaan, makanya kamu tuh harus bangga”
“eh bentar mas..”
Dia beranjak dari kursi dan kembali ke belakang

“mas aji..makan dulu yuk…udah siap neh” fajar telah di pintu
“wahhh kok jadi repot jar”
“ayolah..”
“oke’
Aku bangkit menuju ruang tengah
Sebuah meja makan penuh dengan makanan
Gudeg, sayur krecek, telor bacem, tempe goreng dan lalap cabai rawit hijau
Aku benar-benar terpana
Fajar menyajikan makanan yang bagiku sangat mengundang selera

Kami makan begitu lahapnya
Aku suka sekali rasa gudegnya
Gurih manis, tak seperti gudeg jogja yang cendrung manis legit
Ini sangat gurih…
Aku sampai lupa diri dengan makannya

Selesai makan tiba-tiba fajar nyeletuk
“mas..ikut aku…sini!”
“kemana?”
Dia bangkit..
Kami menuju tangga terbuat dari kayu
Ternyata rumah ini lantai dua
Terhubung oleh tangga kayu
Antik juga
“ke kamarku…”
“hah…ngapain jar?”
“lho katanya mau servis busi…ayoooo…cepetan…” fajar menarik lenganku sambil senyum-senyum
Aku masih bingung luar biasa
Pelan aku naik tangga dengan hati berdebar

************

Sebenarnya ini sebuah ruangan sederhana
Lebih tepatnya sebuah loteng (lantai dua) yang kecil
Hanya satu kamar
Di depan kamar hanyalah atap rumah yang dibuat rata sehingga bisa untuk kegiatan menjemur
Seng yang tebal..
Sehingga kalau kita jalan-jalan di atap rumah layaknya berjalan dihalaman rumah

Ruangan ini berlantaikan papan kayu yang tebal
Pintunya dua..
Satu menghadap ke timur
Dan satu menghadap ke barat
Dari segala pintu semua pemandangan indah terpancar
Jika kita keluar ke pintu timur maka terhampar deret gunung-gunung yang seolah sudah disiapkan dengan begitu rapinya
Gunung merapi, merbabu, telomoyo dan gunung andong
Dan aliran sungai elo berkelok mengikuti alur kota magelang menambah elok suasana

Dan jika ke barat gunung sumbing begitu besar, tinggi dan dekat
Kokoh seolah menopang bumi
Sangat indah…
Dan …akhhh gunung prau juga terlihat disini
Seperti perahu tengkurap
Terlihat kecil disudut bumi

Aku berdiri mematung…
Aku tak percaya aku berdiri diatap rumah yang memang sengaja dibuat rata
Aku seperti berdiri di hamparan tanah
Memandang segala pemandangan dengan angin sejuk semilir yang menerpa tubuhku

“mass…” suara fajar dibelakangku
Aku menoleh tersenyum
“napa?”
“maaf, rumahku jelek ya?”
“iya…jeleeeekkk banget, sampai aku tergila-gila heheheh”
“uhh”
“beneran jar, ini cakep banget, besok kalau aku punya rumah akan kubuat seperti ini jar”
Kulihat fajar tertawa mendengar jawabanku

“mas aji sedang liat apa?”
“merapi jar”
“merapi?”
“iya…tak mengira saja, gunung secantik itu bisa begitu ganasnya”
“iya…mirip cewek”
“apa?”
“iya..merapi itu mirip cewek, cantik, tapi sekali dia marah bikin semua terluka”
“hmmmm….kayaknya kamu punya pengalaman dengan cewek ya ?” tanyaku menyelidik

Kulihat fajar menghela nafas panjang
“iya mas…”
“hmmm…bisa cerita?”

Tiba-tiba fajar menarik lenganku pelan
“masuk mas….”
Aku menurut saja

“duduk mas”
Kami duduk dilantai beralas karpet
“ada apa jar? Serius amat”
Tiba-tiba kulihat wajah fajar yang sungguh berubah
Berubah dengan sedemikian serius
“ada apa jar?” ulangku tak sabar

Fajar kembali menarik nafas dalam-dalam
“napa aku pengin sekali mas aji kesini, tak lain karena aku punya kisah hidup…yahhh…mungkin bisa mas aji tulis sebagai cerita baru”
Aku kaget
“apa? Nggak salah jar?”
Fajar menggeleng lemah

“nggak, mas aji tulis saja kisahku”
‘jar…aku tuh bukan penulis, atau novelis, bukan juga pengarang”
“akhh jangan gitu mas, aku rasa kisahku paling cocok ditulis mas aji”
‘jar…maaf, aku nggak bisa jar, cari yang lain saja “

Fajar tersenyum
“mas..kisah hidupku sangat menarik jika mas aji tulis”
Aku menggeleng
Sangat berat menulis kisah orang lain bagiku
Serasa ada beban
Atau…
Lebih tepatnya serasa ada tanggung awab yang harus dipikul
Harus bagus..
Harus sesuai pesanan
Akhhh aku nggak mungkin bisa

“ayolah mas…aku yakin, kisah hidupku paling bagus jika ditulis mas aji”
“jar, napa nggak kamu tulis sendiri saja?”
“haahhahahaah…”
“kok malah ketawa to?”
“aku ngetik aja nggak bisa pa lagi nulis cerita”
“walah sama dong”
“nggak lah, mas aji kan dah banyak nulis tuh”
“aduh jar…tulisan gitu aja”
“udahlah mas….atau…hmmm”
“apaan?”
“mas aji kinta honor?”
“honor apa?”
“honor nulis”
‘gilaaaa…!!!! Ya nggak lah”
“hehehehhe ya udah makanya tulis aja mas”
“hmmm boleh aku tanya jar?”
“ya mas”
“napa kisah hidupmu pengin aku tulis jar?”
“
Fajar terdiam sejenak

“yahhh…aku punya masa lalu, dan masa laluku bukan hal yang mudah untuk aku lewati mas, makanya aku ingin selalu mengenang masa laluku sebagai acuan untuk hidup dimasa depan, dengan ditulis, itu merupakan suatu kebanggan tersendiri dalm kehidupanku”

“ohh gitu ya, hmmm penasaran juga dengan kisah hidupmu jar”

Tiba-tiba kulihat wajah fajar cerah
“jadi mas aji mau , kalau nulis kisah hidupku?”
Aku mengangguk pelan
“ohhh makasih banget mas”
“tapi…dengan syarat jar”
‘apaan mas”
“kamu nggak boleh protes dengan apapun bentuk tulisanku”
“iya..beres mas”

Tiba-tiba kudengar langkah lari kecil di tangga rumah
Suaranya sangat terdengar, mungkin karena tangga juga terbuat dari papan kayu

“bapaaakkkk……” suara anak kecil melengking
Seorang bocah berusia sekitar 4 tahunan datang
Rambutnya lumayan panjang lurus lemas dan menutup dahinya
Anak yang cakep
Anak itu berdiri mematung memandangku
Mungkin dia tak mengira ada aku disini

“riri sinii…ini ada temen bapak…om aji namanya, salaman dong”
Pelan kaki kecilnya melangkah menuju fajar
Dia menggeledot manja di bahu fajar
“salaman dong’
Aku tersenyum langsungh mengulurkan tangan dan dia menyambut
Sebuah telapak tangan mungil yang lembut kurasakan menempel di telapak tanganku
Kucubit pipinya lembut
Dia tersenyum…
“namanya siapa neh? Tanyaku kepadanya
“riri om”
“hmmm nama yang bagus”

Kupandang wajah fajar
“siapa jar?”
“anakku”
“maksudmu?”
“iya riri itu anakku mas”
“anak angkat?”
“bukanlah…riri itu anak kandung”
“jadi kamu dah berkeluarga jar?”
“iya”
“mana istrimu jar?”

Fajar menggeleng pelan
“kami sudah pisah kok mas”
Aku terdiam
Semua ini di luar dugaanku
“jadi kamu duda?”
Fajar mengangguk lagi
Kutatap wajah fajar dan riri bergantian
Yah…mereka mirip, Cuma riri berkulit putih
Tapi apapun juga, aku tak mengira…fajar ternyata seorang duda…lebih tepatnya duren…duda keren

***************
Bersambung..
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati